Terima kasih karena ada dan membiarkanku merasakan memilikimu sebagai apa pun untuk diriku.

Iklan

Bila kamu pernah mencintai seseorang dengan begitu hebatnya, artinya kamu pun bisa mencintai orang lain dengan sehebat itu juga. Sejauh ini–yang kupahami–kadar cinta itu bukan bergantung pada objeknya, tetapi subjeknya: kamu.

Semua Orang Berhak untuk Bermimpi

Realita yang terjadi dalam hidup adalah kenyataan yang harus diterima dengan lapang dan penuh kesadaran oleh setiap makhluk. Pun dengan setiap manusia yang terlahir sebagai seorang wanita bagi penduduk di desaku. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan yang artiya rata-rata pendapatan penduduk di desaku rendah dan keadaan ekonomi mayoritas tergolong miskin. Sejak dahulu ada aturan adat bahwa seorang perempuan hanyalah pelayan sejati di rumahnya. Tidak boleh sekolah, siap menikah di usia muda dan harus patuh sepenuhnya kepada suami. Adapun anak laki-laki harus sekolah tinggi-tinggi sebab di anggap sebagai tulang punggung keluarga nanti. Dan di sinilah aku. Terjebak dalam kenyataan di kampung ini. Nama yang diberi oleh kedua orangtuaku adalah Maya. Seperti nama itu, mungkin aku hanya boleh memayakan impianku. Walapun demikian, aku besyukur. Aku terlahir dari keluarga yang lengkap. Ada ayah, ibu, dan seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangiku. Namanya adalah Bara.

Seperti pagi biasanya, setiap Bara pergi ke sekolah, aku hanya bisa memandang Bara dari balik kosen jendela rumah. Entah mengapa aku sangat gembira bila Bara pulang lantas menceritakan kisah sehariannya di sekolah. Aku begitu berminat mendengar cerita kakakku itu. Kak Bara adalah orang yang sangat baik. Kakakku juga dengan senang hati mengajarkanku membaca dan menulis.

“Maya, Kakak ada PR Bahasa Indonesia nih, disuruh ngarang bikin puisi. Maya mau gak bantuin kakak bikin?” tanya kakak.

“Wah serius Kak?” jawabku antusias.

“Iya”

Inilah pertama kali aku belajar untuk menulis, kuakui kemampuanku baca dan tulis, kakakku yang secara diam-diam mengajari. Aku sangat beruntung punya kakak sebaik Bara. Sejak saat itu, tanpa aku sadari aku jadi sering menulis, tentang apa saja yang kulihat, bahkan banyak tulisan yang menurutku tidak terlalu penting. Sampai suatu saat, kakak membaca tulisan-tulisan yang kusembunyikan di bawah baju dalam lemari.

“Maya, ini kamu yang bikin?”

“I … iya Kak, maaf.” jawabku gagap karena takut dianggapnya tidak normal.

“Maya, Kak Bara tahu bahwa Maya punya sesuatu semacam kelebihan yang tak dimiliki oleh perempuan lain desa kita ini. Bolehkah kakak bertanya Dik?”

“Apa itu Kak?”

“Apa impian Maya saat ini?”

Beberapa saat suasana menjadi senyap, hening seketika. Aku tak tahu mau berkata apa.

“Sebenarnya apa impiannya Maya? Jawablah Dik, jangan takut.” Tanya Kak Bara sekali lagi.

“Maya tidak tahu Kak. Maya takut untuk bermimpi. Maya tak yakin apakah memiliki mimpi dan harapan selain menjadi istri yang penurut diperbolehkan. Setiap Maya berkumpul dengan teman perempuan Maya yang lainnya, tak ada satu pun yang membicarakan tentang impian. Semuanya hanya membahas tentang suami dan anak-anak mereka kelak.” Jawabku dengan nada putus asa dan tak kusadari bahwa tetesan bening telah mengalir di kedua pipiku.

“Adikku, Maya, setiap orang bebas untuk memiliki mimpi dan harus punya. Karena dengan impian-impian itu orang akan optimis dan memiliki tujuan hidup. Kakak tahu, untuk saat ini kamu dibelenggu oleh keterbatasan dan ketidakmungkinan. Tapi percaya sama kakak bahwa keterbatasan bisa menjadi kebebasan untuk menjadikan ketidakmungkinan menjadi kemungkinan yang tak terduga. Dan kakak tahu kamu punya potensi untuk menjadi seorang penulis.”

Tangisanku semakin meledak usai mendengar omongan kakak. Tak pernah ada yang berkata demikian. Apalagi kalimat kakak yang terakhir. Benar-benar membuatku terisak dan ingin menggapai impianku tersebut.

****

Setelah hari kejadian itu, aku jadi sering berimajinasi memikirkan tentang masa depan dan berumpama menjadi sesuatu. Pada siang harinya aku pamitan kepada ibu untuk jalan-jalan sebentar. Ibu lumayan kaget karena aku tiba-tiba ingin keluar. Dengan alasan ingin menikmati suasana kampung dan sedikit merengek akhirnya ibu mengizinkan dan untungnya ayah belum pulang bekerja. Jadi, aku diperbolehkan untuk keluar.

Panas mentari hingga ke ubun-ubun sama sekali tak kupedulikan. Jalan setapak demi setapak kulewati hingga sampailah aku di kedai kopi dan melihat sebuah kotak kecil yang menayangkan orang dan suasana tempat yang begitu berbeda dengan desaku. Aku tidak tahu itu apa namun orang sekitar menyebutnya televisi dan aku terpana melihat apa yang ditayangkan oleh layar kaca tersebut. Ada bangunan tinggi yang menjulang, kendaraan yang tak pernah kulihat sama sekali dan lalu lalang orang banyak. Jakarta, ya, nama tempat itu adalah Jakarta. Ingatan akan kondisi Jakarta tertanam di benakku. Mungkinkah suatu saat aku akan ke sana?

Aku pun kembali ke rumah untuk segera menceritakan apa yang kulihat barusan ke Kak Bara.

“Kamu dari mana saja, Dik?”

Kuceritakan dengan rinci apa saja yaang kusaksikan lalu aku bertanya ke Kak Bara tentang Jakarta. Kakak pun dengan sabar menjelaskan kepadaku.

“Jakarta adalah ibukota negara kita, Dik. Di sana sangat ramai dan maju. Orang-orang di sana sangat banyak dan kendaraan serta bangunan macam-macam bentuknya di sana.”

“Maya sangat ingin ke Jakarta, Kak”

“Bila Maya yakin dan berusaha sepenuh hati, kakak yakin Maya akan ke Jakarta suatu saat nanti. Kakak sungguh tak menyangka, impianmu sangat besar adikku.” Ucap Kak Bara sambil mengusap kepalaku.

****

Hari itu cuaca sangat buruk. Suara halilintar bergema dan seolah membikin langit akan runtuh. Huajn mengguyur desaku dengan lebatnya. Aku sangat kawatir, mengapa di cuaca seburuk ini kakakku belum juga tiba di rumah seusai pulang sekolah. Aku melihat ibu di dapur membuat kopi dan bapak sedang merapikan jaring-jaringnya. Ibu dan Bapak sepertinya tak menyadari ketidakhadiran kakak. Aku pun mengatakan kepada keduanya tentang kecemasanku itu.

“Bapak, kok Kak Bara belum sampai rumah ya, cuaca sangat buruk sekali Pak!”

“Kakakmu itu laki-laki. Kamu tak usah cemas. Mungkin dia ada urusan penting.” Bapak terlihat sangat sibuk dengan jaringnya. Aku lalu berbicara kepada ibu.

“Ibu kok kakak belum pulang ya? Maya takut sekali Bu.

“Maya, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak.
Pada akhirnya, aku pun pasrah dan menunggu saja kakak setibanya pulang. Akan tetapi, tiba-tiba saja ada suara gedoran pintu yang ricuh.

Bapak, ibu dan aku menuju ke pintu. Bapak dengan kaget membuka pintu.

“Anakmu, Man! Anakmu si Bara, dia kecelakaan! kata tetangga sebelah dengan nafas terengah-engah.
Dengan kondisi terkejut kami tak mau mengulur waktu. Kami segera menuju Mantri tempat kakak dibawa oleh tetangga kami. Aku terduduk lemas setibanya di sana. Kepala kakakku bercucuran darah segar yang mengalir dan beberapa perban putih yang sama sekali tak menghentikan pendarahannya kakak.

“Kak Bara!”

“Maya, adikku, kaka sudah tidak kuat Dik. Kakak belum bisa membahagiakan ibu dan bapak. Maya itu anak pintar. Maya harus meraih cita-cita Maya.” Kak Bara mengucapkannya dengan kesulitan dan aku tak mampu menahan derai air mataku.

Kata terakhir yang kakak ucapkan untukku selama-lamanya, tawa dan senyumnya tidak akan pernah kulihat lagi.

Usai pemakaman, kata-kata kakakku masih membekas di benakku. Sejak kakak meninggal, aku tidak berbicara pada siapapun termasuk ibu dan bapak. Aku duduk termangu sambil menopang dagu di atas meja kecil tempat aku dan kakak biasanya belajar. Tanpa sadar aku menarik secarik kertas dan menuliskan kalimat demi kalimat, kutuliskan semua impianku.

Aku ingin menjadi wanita sukses
Aku ingin menjadi penulis hebat
Aku ingin membahagiakan ibu dan bapak
Aku ingin memajukan desaku

Maya

Kebulatan tekadku untuk mewujudkan semua itu semakin kuat dan memberikan keberanian dalam diri untuk bisa terlepas dari adat kampung. Aku memberanikan diri mengatakan semuanya pada bapak dan ibu, berharap mereka mendukung keinginanku. Aku tidak ingin seperti kebanyakan perempuan di kampungku, tidak memiliki pendidikan, hanya melayani suami dan menunjukkan kelemahan kita sebagai perempuan, atau seperti ibu yang kadang dipukul bapak karena tidak tepat mengurusi kebutuhannya.

Dengan berani kusampaikan tujuanku secara halus dan hati-hati.

“Ibu, Bapak, Maya ingin ke Jakarta, Maya ingin menggapai impian Maya. Tolong beri restu anakmu ini pergi.”

“Maya, sembarangan kamu! Anak perempuan mana boleh pergi merantau, jauh-jauh pula. Untuk apa kamu menggapai impianmu, tidak ada gunanya juga, nantinya kamu hanya bakal melayani suami. Lagipula bisa apa kamu Maya nanti di sana, kamu tak pernah sekolah. Baca tulis pun tak bisa. Berpikir panjanglah, Maya!”Ucap bapak dengan nada semakin meninggi. Lalu aku lihat ibu hanya diam, tidak berkomentar.

“Bapak, Maya bisa membaca dan menulis. Kak Baralah yang mengajari Maya. Berikan Maya kesempatan, Pak. Maya mohon!” Aku memohon kepada bapakku dengan seluruh daya upaya agar ia mengizinkanku, aku terus bersikeras melontarkan berbagai upaya pendapat.

“Apa keyakinanmu sudah bulat, Maya? Kehidupan di kota sangat kejam, Nak. Bapak dan ibu hanya punya kamu ssekarang. Tapi, Bapak juga tahu kamu itu perempuan yang berani. Apa cita-citamu, Nak?
Maya ingin mengenyam pendidikan hingga sarjana lalu menjadi penulis berbakat, Pak.” Deraian tangisan tak bisa lagi kubendung, aku menangis sejadi-jadinya. Selama aku menangis semuanya hanya diam, tidak ada kata-kata sampai akhirnya kulihat bapak dan ibu saling bertatapan dan bapak mulai angkat bicara.

“Jika kamu memang bertekad, gapailah impianmu, Nak. Bapak dan ibu akan menunggu di sini. Sebagai bekal di perjalanan, kami ada sedikit tabungan untukmu.” Aku sangat terharu dan segera berterima kasih pada bapak dan ibu, kucium kedua tangan mereka.

****

Keesokan hari kusiapkan apa saja yang akan kubawa sebagai bekal perjalananku. Dua hari lagi kau akan ke ibukota. Tak kukira ternyata keberangkatanku diketahui seluruh penjuru desa. Dan senangnya lagi, semua mendukungku. Bahkan ada yang sampai memberikan aku bekal. Awalnya mereka terkejut mendengarku ingin merantau. Ke Jakarta pula. Namun di sisi lain mereka turut bangga dan mendoakanku. Mereka bangga karena akhirnya ada seorang perempuan yang berani meraih cita-cita sepertiku. Mereka berharap bahwa anak-anak mereka kelak bisa meraih pendidikan sepertiku juga. Entah laki-laki atau perempuan.

Selamat berjumpa lagi desaku. Kelak bila aku sudah lulus, akan kubuktikan bahwa sia pun berhak meraih impiannya, entah siapa pun kita. Apakah karena keterbatasan ekonomi, fisik, adat istiadat atau apa saja. Asal kita yakin, berdoa dan mau berusaha, semua pasti bisa!

Selesai

Gadis Senja

Aku tidak tahu siapa perempuan yang sering dibicarakan oleh penduduk desaku. Kata mereka gadis itu cantik, bahkan cantik sekali. Penduduk desaku menyebutnya sebagai gadis senja. Gadis dengan baju yang sama, duduk di tempat yang sama dan pada waktu yang sama. Setiap sang jingga mulai menciumi lautan, tepat saat itulah sang gadis akan muncul. Beberapa orang mengatakan bahwa dia adalah titisan Nyai Roro Kidul. Tapi, bajunya selalu bewarna hitam bukan hijau. Entah di desa atau kota, rumor selalu berkembang semaunya.

Tapi siapa aku? Mengapa aku harus memikirkan rumor itu? Aku terlalu lelah bahkan utnuk memikirkan urusan orang lain. Setiap hari dengan keringat bercucuran dan lelah yang bukan main, aku harus bekerja keras—apu pun itu—untuk menghidupi ibu dan kelima adikku. Ibuku memebesarkan kami tanpa Bapak. Bapak bersama perahunya tenggelam di lautan saat malam tengah hujan deras dengan badai di lautan yang riuhnya tak perlu dipertanyakan. Akulah yang harus menggantikan Bapak untuk menafkahi ibu dan adik-adikku. Aku bahkan rela putus sekolah dari kelas lima SD. Asal aku sudah bisa membaca dan menulis itu sudah lebih dari cukup.

Penghasilanku tidak tetap. Begitu pun pekerjaanku. Beberapa hari yang lalu aku menjadi buruh bangunan dan kali ini aku menjadi nelayan yang mengarungi ombak lautan untuk menjaring ikan. Selain untuk dijual, juga dibawa pulang. Asal aku tak mengemis, pekerjaan seberat apa pun akan aku lakukan. Walaupun setengah mati kerelaan untuk bekerja keras demi keluarga adalah prinsip utama yang selalu aku pegang.

Tapi hari ini ada yang berbeda. Akhirnya aku menyaksikan sendiri gadis yang sering dibicarakan penduduk desaku. Pada senja hari itu, ada sesosok gadis yang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Entah banyaknya pengunjung atau mata yang tertuju padanya. Gadis itu menatap ke arah langit sembari menutup mata; menikmati hembusan angin dan suara deru ombak. Pemandangan yang benar-benar membuat jantungku berdetak sangat kencang. Langit, gadis dan lautan itu adalah perpaduan sempurna untuk keindahan yang sederhana.

“Ansar, sampai kapan kau hanya menatap gadis itu? Cobalah untuk mendekatinya! Jangan terlalu terbebani dengan pekerjaanmu, Sar. Kau pun harus mencari kebahagiaanmu sendiri.” Kata Pak Kasim. Di antara sekian rekan nelayannya. Pak Kasimlah yang terbijak. Dari kecil, Pak Kasim selalu menyemangatiku. Aku menganggap Pak Kasim seperti ayahku sendiri.

“Saya ini bukan siapa-siapa toh Pak. Mana ada gadis secantik itu yang mau dengan nelayan desa kecil seperti saya ini.”

Lah, kan belum dicoba Sar. Kasihan ibumu. Beliau sudah tak muda lagi. Menikahlah, Sar, biar ada yang nemani ibumu di rumah”

“Tapi saya mesti sekolahkan adik-adik dulu, Pak”

“Iya, Bapak tahu, Sar, tapi dengan mengenal dulu tidak menghalangi pekerjaanmu bukan?”

Aku mencerna setiap kata Pak Kasim dengan baik. Aku sadar bahwa selama ini terlalu menanggung beban berat di pundakku. Sehingga untuk memikirkan kebahagiaanku sendiri benar-benar nihil adanya.

Aku terus memandangi sosok gadis itu dari kejauhan. Tapi bagaimana pun, aku ini tak punya apa-apa. Hanya diriku yang selalu mau berusaha. Kembali bayangan masa lalu gelap menghantuiku. Saat masih sekolah, teman-teman perempuanku selalu menghina dengan menyebutku bau, gembel, pengemis dan anak tanpa bapak. Bagaimana mungkin aku bisa mendekati gadis bila sebelumnya tak pernah kulakukan?

Seperti hari-hari sebelumnya, gadis itu tetap di tempat dan waktu yang sama kembali menikmati senja. Kali ini dia berdiri di tepi pantai dan tak peduli dengan ombak yang membasahi tubuhnya. Keraguan yang menancap di hatiku kini perlahan menghilang. Dengan ringan, langkahku tertuju mendekat ke gadis itu.

“Tuhan memang selalu punya cara indah untuk mengakhiri sesuatu. Seperti hari dengan senja seperti ini.” Ucapku yang juga menatap lukisan jingga di kanvas langit tersebut.

Gadis itu membuka matanya dengan sedikit kaget. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk memasang wajah ramah kepada sang gadis. Dengan senyum yang sangat kaku, Aku berupaya terlihat lebih santai.

“Senja dan lautan adalah kesukaanku. Keduanya punya pesona tersendiri.” Ucap gadis itu dengan senyuman manis di wajahnya. Aku merasakan kegembiraan menjalar ke sekujur tubuhku. Serasa ada kupu-kupu yang menari di dalam perut. Bahkan dengan percakapan sesederhana ini aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

“Namaku Ansar. Siapa namamu?” Ucapku kembali membuka dialog kami.

“Namaku Gadis, tapi aku bukan namaku”

“Maksudmu?” Tanyaku sedikit heran.

“Bukan apa-apa. Apakah kau penduduk asli desa ini?”

“Iya, dan kau sendiri apakah begitu menyukai senja seperti pantai di desaku yang sederhana ini?”

“Aku punya alasan tersendiri. Bagiku dengan menikmati senja di lautan lepas seperti ini bisa mengurangi rasa beban yang begitu berat kutanggung.” Ucap Gadis dengan senyum tipis namun tatapan yang begitu menyedihkan.

“Kau benar, Gadis. Dengan menatap lautan seperti ini tentu bisa mengurangi bebanmu. Sekadar itu. Masalah dan beban itu berbeda. Stres dan beban bisa saja berkurang atau menipis. Namun masalah tidak seperti itu. Masalah harus diselesaikan. Kalau tidak, pasti akan terus menghantuimu.”

Gadis pun tertunduk mendengar ucapanku. Dengan mata berair namun jelas ditahan, membuat dadaku ikut sesak melihatnya.

“Apakah kau tersinggung dengan perkataanku, Gadis?”

“Tidak. Ucapanmu benar. Aku harus menyelesaikan masalahku. Terima kasih, Ansar. Selamat tinggal”. Gadis tersenyum tulus kepadaku dan perlahan menghilang dari hadapanku.

Aku masih terus menunggu Gadis setiap hari di pantai ini dengan waktu dan tempat yang sama. Namun. Gadis tak kunjung datang. Aku tidak tahu apa yang membuat Gadis tak datang lagi. Apakah kata-kataku waktu itu mungkin menyakitinya? Aku benar-benar merindukan Gadis. Bagaimana mungkin aku mengajaknya menikah kalau kesan pertama saja sudah membuatnya lari.

Sudah hampir seminggu Gadis tak pernah muncul lagi. Perasaan bersalah ini sungguh membebaniku. Andai saja aku tidak langsung menasehatinya seperti itu, mungkin saja Gadis masih ada setiap sore menikmati senja dengan rambutnya yang terkibas indah dan tatapan lembutnya kepada langit.

“Ada seorang gadis terdampar di pantai!” Teriakan itu sontak membuat orang-orang yang ada di sekitar pantai mendekati sumber suara. Begitu pun aku, Pak Karim dan nelayan lainnya.

Rambut itu, hidung itu, bibir itu. Ah tidak!. Dia adalah gadisku. Badanku bergetar hebat melihat mayat yang terbujur kaku di hadapanku. Gadis yang selama ini aku tunggu kini sudak tidak ada.

“Kasihan gadis secantik itu, harus meninggal dengan keadaan menyedihkan. Dia hamil empat bulan dan tidak ada seorang pun lelaki yang mau bertanggung jawab atas kandungannya itu” bisik ibu-ibu yang ada di hadapanku. Aku bisa mendengarkannya. Air mataku bercucuran menyaksikan Gadis yang telah tiada dengan penyesalan seumur hidup teramat dalam.

Selesai

Kegelapan adalah Jalan Menuju Terang

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta dengan cara paling sederhana atas hidup?

Ya, hidup.

Ketika kamu berada dalam ruangan yang nyaman. Entah ditemani oleh buku, musik yang indah nan lembut, suara hujan dari luar, desiran air laut, drama korea, film baru yang lama di nanti atau bisa saja film lawas yang dirindukan, kabar teman lama yang tiba-tiba muncul, makanan rumah yang tersaji langsung ketika menuju meja makan, atau entahlah, apa pun itu. Hal-hal yang masih membuatmu ingin hidup sampai sekarang

–serasa bahwa dunia itu indah. Ingin menjelajah ke tempat yang belum dikunjungi. Bila tak bersama barang tentu bisa sendiri.

Penghargaan tertinggi atas hidup ialah hidup itu sendiri.

Pasti, dalam hidup ada sisi gelap bahkan yang tergelap. Suram, mencekam dan menyakitkan. Tapi, tak perlu buru-buru kita mencari terang dalam gelap. biarkan kegelapan membentang sepanjang apa pun. Sebab di situlah terdapat ruang lengang dan kesempatan maha lapang tempat kita–saya dan kamu–menemukan diri, tentang siapa kita; apa yang kita mau; darimana asal kita; dan ke mana tujuan kita setelahnya.

Selamat. Dengan penuh kesadaran, kita menemukan jalan (terang).

Kita, bukanlah masalalu kita. Bukan juga beban yang ada di pundak, bekas luka yang menganga dan sakit bahkan ketika dilihat; suara-suara keras yang menusuk tanpa ampun di kepala; derita kejatuhan yang mengurai air mata; keputusasaan akan cita atau pun cinta dan ribuan kali niatan untuk mengakhiri hidup yang kita anggap penuh derita. Bukan, sekali lagi. Hal yang tersebutkan bukanlah kita.

Harapan selalu ada. Meski dengan langkah tertatih, jalan masih bisa dilalui. Kita bisa jadi adalah pelukan hangat dari jutaan rindu yang dirapalkan, kasih sayang selembut embun segar di pagi hari, bulir doa dari bapak dan ibu yang suci, sahabat karib dari mereka yang bahkan belum ditemui, tangan yang penuh berani menyelamatkan ketika jurang menghampiri, tokoh utama dan bait dari sebuah puisih, jiwa yang berlari dan penuh kemenangan riang menari dan pada akhirnya kita tak akan pernah mau berhenti.

Selamat. Saya menyayangimu, mereka menyayangimu, kamu menyayangimu.

Semesta memberkati.

Sastratika

Apa yang dimasak oleh ibu?

– Semangkuk kenangan berbahan album masa kecil yang sebatas angan beraroma doa agar aku pulang.

Apa yang dilakukan oleh ayah?

– Membaca kiat-kiat sukses untuk menjadikan aku orang baik.

Maaf.

-Dea(th)

Nikotinia Kematian

Puntungpuntung rokok itu adalah aku yang asapnya bergelantung terbawa arus angin lalu berterbangan sebagai sisasisa buntung. Sebab sebelumnya ada nyawa dan nikotin jiwaku yang disabuni–terbilas lantas dikemas dalam balutan pita emas dan disambut macepat betempo kilat pun penuh sarkas.

Aku merupakan kematian yang bisa kaurasakan penuh keindahan dalam arus kecepatan titian. Saat ini aku tengah menari pada sebuah asbak kepalsuan dari melamin yang diperkosa oleh nikotin. Segalanya menguning, memeras apaapa yang disebut adab lalu tergumpallah segala manifestasi harapanku di masa muda dan sisasisa impian yang siasia mengendap di dasar dunia.

Aku adalah ketakgunaan dari bentuk ciptaan yang menyesakkan kehadiran tanpa fungsi atau hal lain–hanya demi perayaan kematian. Benar, matikan saja segala keakuanku. Ini artiku. Putung yang beruntung, sempat merasakan apa itu panjang dan memberi sensasi agung.

Baiklah aku mengaku. Di sini aku hadir untuk matimu, dan aku bakal mati untuk ketakhadiranku yang berikutnya.

Kali ini, balutan putung rokok yang bernama aku tengah bersetubuh dengan deposit. Akan ada benih bungabunga yang nampak panjang demi keadiksianku dan keinginan naluri setanmu. Cumbu, jamah, tarik, dorong lantas rasakan sensasi klimaksnya dengan jiwamu dan nikmati kepenuhan peluhpeluh dari ‘ah(a(ha)(ha)h’ nafas tertawamu yang berbusuk udara penuh cemarcemar endema pembusukan kebaikan seiring waktu. Sebab saat keakuanku hidup, ialah masa berjalan menghilangkan jatahmu yang mundur terkikis habis. Ada balas tak kenal batas dari yang Teratas. Nikmati saja masamu. Pembunuh cerdik selalu membunuh dari tempat yang terduga.

Berakhir. Meninggal saja kalau begitu. Terhormatlah matiku. Secepatnya tanpa kenal nanti dulu. Genggam keras, patahkan. acuhkan kemaslahatanku. Seiring angin yang berdesir, akulah yang berguna dalam sisa penantian kematian.

Inilah seloroh keterikatan, keajegan, penghakiman, kesingguhan dan pengobatan terbaik dengan sialsial di luar batas moral. Baik segala lajur melampaui jalan nalar, tetap saja penggerak kematianmu adalah aku.

Kuantitasmu seribu tahun lagi dari seribu tahun yang lalu.

Kemomenbolehjadian media atas dendammu ialah kemunafikan yang kau idam-idamkan. Entah kaubanggakan atau ingin kau balik menolak fakta bahwa aku kembali terhidupkan. Pemantik masih banyak murah dan mudah diperoleh dibanding sembunyi dari asap denyut pelumas jantung dan selsel yang mengalir di sepanjang nadir nadi dan impuls neutron pusat sarafmu.

Akulah sang logika yang bisa kaupikirkan sejauh batas tanpa pernah kausentuh secara bebas. Sialmu, akulah sang sekadar wacana paling realita yang tak mampu kausanggah. Terbencana, memang. Bukankah jelas dari simbol purwaku bahwa akulah sang maskot kematian yang telah mati dan saat kuhidup aku berdemontrasi pasif untuk mencabut nyawa yang terpermisif, responsif pun adiktif yang reaktif?

Tak bakal bisa kau tolak aku. Saat kembali hidup, akulah sang mati abadi yang membikinmu ngilu abadi terjadi-jadi.

Akulah keindahan. Akulah kematian. Jika dan seandainya paling malapetaka yang memberi sisi sakit luar biasa sakti bila aku tak ada. Sang epidermis hati nurani yang kaupuja dan sembah dalam jawab ataupun tanya. Inilah aku. Substansial pada ketakberdayaan yang mengindahkan seniman untuk menggadaikan komoditi harapan estetika bersama senandung orbiatuari di nisan terukir nama sendiri.

Dengan demikian, penyalahan atas aku adalah kebersalahan. Kautahu? Berhamburan sekali puja-puji atas segala keanarkian, keberhasilan dan tulisan. Lukiskan kriminalitas diri sebagai ketegasan kalian. Kalian itu adalah bukan aku. Sang putung yang teramat beruntung yang mati dahulu dibandingkan para jasad yang memberi tumpangan sementara bagi jiwa yang akan berpulang. Curangi kematian maka teracun keabadian.

Apakah tanpa aku kalian lewatkan sujud?

Atau hilangkan segala wujud?

Dusta digurat, anut diurut. Pungut kembali cercahan kisah nabi yang siap diganti sebab usia lanjut. Akulah sang putung yang menangis lirih membakar diri. Memusnahkan abadi sebagai cinta yang layak kudapatkan dari kekasih sang mati. Selamat menikmati. Dan tak usah serah-terima kasih.

-Dea(th)