Kegelapan adalah Jalan Menuju Terang

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta dengan cara paling sederhana atas hidup?

Ya, hidup.

Ketika kamu berada dalam ruangan yang nyaman. Entah ditemani oleh buku, musik yang indah nan lembut, suara hujan dari luar, desiran air laut, drama korea, film baru yang lama di nanti atau bisa saja film lawas yang dirindukan, kabar teman lama yang tiba-tiba muncul, makanan rumah yang tersaji langsung ketika menuju meja makan, atau entahlah, apa pun itu. Hal-hal yang masih membuatmu ingin hidup sampai sekarang

–serasa bahwa dunia itu indah. Ingin menjelajah ke tempat yang belum dikunjungi. Bila tak bersama barang tentu bisa sendiri.

Penghargaan tertinggi atas hidup ialah hidup itu sendiri.

Pasti, dalam hidup ada sisi gelap bahkan yang tergelap. Suram, mencekam dan menyakitkan. Tapi, tak perlu buru-buru kita mencari terang dalam gelap. biarkan kegelapan membentang sepanjang apa pun. Sebab di situlah terdapat ruang lengang dan kesempatan maha lapang tempat kita–saya dan kamu–menemukan diri, tentang siapa kita; apa yang kita mau; darimana asal kita; dan ke mana tujuan kita setelahnya.

Selamat. Dengan penuh kesadaran, kita menemukan jalan (terang).

Kita, bukanlah masalalu kita. Bukan juga beban yang ada di pundak, bekas luka yang menganga dan sakit bahkan ketika dilihat; suara-suara keras yang menusuk tanpa ampun di kepala; derita kejatuhan yang mengurai air mata; keputusasaan akan cita atau pun cinta dan ribuan kali niatan untuk mengakhiri hidup yang kita anggap penuh derita. Bukan, sekali lagi. Hal yang tersebutkan bukanlah kita.

Harapan selalu ada. Meski dengan langkah tertatih, jalan masih bisa dilalui. Kita bisa jadi adalah pelukan hangat dari jutaan rindu yang dirapalkan, kasih sayang selembut embun segar di pagi hari, bulir doa dari bapak dan ibu yang suci, sahabat karib dari mereka yang bahkan belum ditemui, tangan yang penuh berani menyelamatkan ketika jurang menghampiri, tokoh utama dan bait dari sebuah puisih, jiwa yang berlari dan penuh kemenangan riang menari dan pada akhirnya kita tak akan pernah mau berhenti.

Selamat. Saya menyayangimu, mereka menyayangimu, kamu menyayangimu.

Semesta memberkati.

Sastratika

Iklan

Apa yang dimasak oleh ibu?

– Semangkuk kenangan berbahan album masa kecil yang sebatas angan beraroma doa agar aku pulang.

Apa yang dilakukan oleh ayah?

– Membaca kiat-kiat sukses untuk menjadikan aku orang baik.

Maaf.

-Dea(th)

Nikotinia Kematian

Puntungpuntung rokok itu adalah aku yang asapnya bergelantung terbawa arus angin lalu berterbangan sebagai sisasisa buntung. Sebab sebelumnya ada nyawa dan nikotin jiwaku yang disabuni–terbilas lantas dikemas dalam balutan pita emas dan disambut macepat betempo kilat pun penuh sarkas.

Aku merupakan kematian yang bisa kaurasakan penuh keindahan dalam arus kecepatan titian. Saat ini aku tengah menari pada sebuah asbak kepalsuan dari melamin yang diperkosa oleh nikotin. Segalanya menguning, memeras apaapa yang disebut adab lalu tergumpallah segala manifestasi harapanku di masa muda dan sisasisa impian yang siasia mengendap di dasar dunia.

Aku adalah ketakgunaan dari bentuk ciptaan yang menyesakkan kehadiran tanpa fungsi atau hal lain–hanya demi perayaan kematian. Benar, matikan saja segala keakuanku. Ini artiku. Putung yang beruntung, sempat merasakan apa itu panjang dan memberi sensasi agung.

Baiklah aku mengaku. Di sini aku hadir untuk matimu, dan aku bakal mati untuk ketakhadiranku yang berikutnya.

Kali ini, balutan putung rokok yang bernama aku tengah bersetubuh dengan deposit. Akan ada benih bungabunga yang nampak panjang demi keadiksianku dan keinginan naluri setanmu. Cumbu, jamah, tarik, dorong lantas rasakan sensasi klimaksnya dengan jiwamu dan nikmati kepenuhan peluhpeluh dari ‘ah(a(ha)(ha)h’ nafas tertawamu yang berbusuk udara penuh cemarcemar endema pembusukan kebaikan seiring waktu. Sebab saat keakuanku hidup, ialah masa berjalan menghilangkan jatahmu yang mundur terkikis habis. Ada balas tak kenal batas dari yang Teratas. Nikmati saja masamu. Pembunuh cerdik selalu membunuh dari tempat yang terduga.

Berakhir. Meninggal saja kalau begitu. Terhormatlah matiku. Secepatnya tanpa kenal nanti dulu. Genggam keras, patahkan. acuhkan kemaslahatanku. Seiring angin yang berdesir, akulah yang berguna dalam sisa penantian kematian.

Inilah seloroh keterikatan, keajegan, penghakiman, kesingguhan dan pengobatan terbaik dengan sialsial di luar batas moral. Baik segala lajur melampaui jalan nalar, tetap saja penggerak kematianmu adalah aku.

Kuantitasmu seribu tahun lagi dari seribu tahun yang lalu.

Kemomenbolehjadian media atas dendammu ialah kemunafikan yang kau idam-idamkan. Entah kaubanggakan atau ingin kau balik menolak fakta bahwa aku kembali terhidupkan. Pemantik masih banyak murah dan mudah diperoleh dibanding sembunyi dari asap denyut pelumas jantung dan selsel yang mengalir di sepanjang nadir nadi dan impuls neutron pusat sarafmu.

Akulah sang logika yang bisa kaupikirkan sejauh batas tanpa pernah kausentuh secara bebas. Sialmu, akulah sang sekadar wacana paling realita yang tak mampu kausanggah. Terbencana, memang. Bukankah jelas dari simbol purwaku bahwa akulah sang maskot kematian yang telah mati dan saat kuhidup aku berdemontrasi pasif untuk mencabut nyawa yang terpermisif, responsif pun adiktif yang reaktif?

Tak bakal bisa kau tolak aku. Saat kembali hidup, akulah sang mati abadi yang membikinmu ngilu abadi terjadi-jadi.

Akulah keindahan. Akulah kematian. Jika dan seandainya paling malapetaka yang memberi sisi sakit luar biasa sakti bila aku tak ada. Sang epidermis hati nurani yang kaupuja dan sembah dalam jawab ataupun tanya. Inilah aku. Substansial pada ketakberdayaan yang mengindahkan seniman untuk menggadaikan komoditi harapan estetika bersama senandung orbiatuari di nisan terukir nama sendiri.

Dengan demikian, penyalahan atas aku adalah kebersalahan. Kautahu? Berhamburan sekali puja-puji atas segala keanarkian, keberhasilan dan tulisan. Lukiskan kriminalitas diri sebagai ketegasan kalian. Kalian itu adalah bukan aku. Sang putung yang teramat beruntung yang mati dahulu dibandingkan para jasad yang memberi tumpangan sementara bagi jiwa yang akan berpulang. Curangi kematian maka teracun keabadian.

Apakah tanpa aku kalian lewatkan sujud?

Atau hilangkan segala wujud?

Dusta digurat, anut diurut. Pungut kembali cercahan kisah nabi yang siap diganti sebab usia lanjut. Akulah sang putung yang menangis lirih membakar diri. Memusnahkan abadi sebagai cinta yang layak kudapatkan dari kekasih sang mati. Selamat menikmati. Dan tak usah serah-terima kasih.

-Dea(th)

Imunitas Non Imanitas

Aku begitu benci mendengar denting kunci yang tak dirantai satu dengan yang lain, dan terpatri. Siapa yang mengizinkan untuk mengetuk di dalam benak diriku? Seakan nyata menekuk punggung dan mematahkan kusen daun pintu. Ah, silakan duduk, dapat ditunggu? Siapa ayal sendiri ‘tuk membuai khayal?

Tertepi sampan sepi sendiri terhanyut diri ditemani nampan. Nampannampan yang kosong dan tampan. Lalu kilah itu menebarkan celah kesalahan atas Allah. Mengapa konstruksi Tuhan kauanggap sebagai bualan?

Seolah baik ialah konsep dan kebenaran merupakan hasil delik terpelik pun timbang perkara dari aksi-reaksi atas sebuah sikap. Pesan Ilahi kaujadikan sentimen pribadi. Sungguh lancang kau menjanjikan dirimu sendiri Surga yang berdiri di atas pondasi dosa yang tak surut bermuara. Seakan seorang ahli wacana yang berbicara tanpa rencana; menjungkal keragaman hanya atas nama asas keimanan. Semata. Dibutakan oleh pencarian semata, berujung tak bertata demi mengais harta. Bahkan tahta.

Ingat wahai aku. Imanitas bukan imunitas. Teristimewa berkait penyakit kebenaran yang ternyata petaka dari sebuah Endema. Sakit kuning lanjut ke matamu yang bengkak sampai menjalar sekujur kening. Lantas menghitam, makin hitam makin legam. Legam arang banggalah kau mengerang.

Teruntukmu seakan ia mendengar ajakan. Di balik legam dahi mendamba restu Ilahi, dan lebat janggut di atas rasa kemanusiaan yang kaulupakan dan renggut, dirimu itu seorang manusia lemah kolektif yang merasa benar atas rahasianya.

–Rahasia semesta menuju ayal. Aku hanya tertawa mendengar itu hanya senyawa, bahkan kotoran kuping yang kauharap untuk menjawab kepingkeping persoalanmu sama sekali tak mampu.

Wahai aku. Ada solusi memberi solusi.
Apakah itu baik?
Aku tak tahu apakah itu intuisi?
Diriku atau gilakah dirimu yang layu termakan lalu semu?
Pada akhirnya para pasukan pendengar senyawa di kuping mereka akan bertanya atau mungkin menjawab langsung, bahwa mereka secara langsung adalah benar lalu yang lain itu mungkar?
Hingga makar dan alas tikar menjadi alasan untukmu menjadi kasar?
Terpisah kepala dan badanku akibat karena akan, benar menjadi dua, dan bahkan aku menjadi, semoga, orang yang paling baik yang bakal naik.

Jalan setapak menuju kesadaran sempurna mengenai kotoran kuping seorang benar yang berbau tahi. Urai saja ususku hingga kau terbuai, tebar merah darah yang telah terarah atas keburukan yang kaucap sebenarnya adalah anugerah yang kau tidak lakukan.
Lakukan, maka kau bisa lihat dan telan mentah. Semua asumsi atas intuisi hanya berasal dari sebuah kotoran kuping banal. Tutup saja kupingmu dan temu keningmu bukan di alasmu maupun petamu. Tetapi di dalam ketiadaan detak petak otak yang berdenyut dan memeta segenap semesta.

-Dea(th)

This is is really weird. How can we suddenly even forget the people we know the part of him. We still want to know more. But was forced to forget. We know what his sibling’s name, his lullaby song, his childhood story, his favorite snack or his sleeping hour. Then all must stop immediately. Again making us and him be like two strangers who are considered never know each other. It is so strange. It is the weirdest thing that I ever know.

Pulang

Kurasakan besi selingkar itu menyentuh kulitku. Dia membuatku telanjang. Dengan stetoskop bermerek paling top; kurasakan sensasi dingin seakan memberikan segala yang kuingin. Namun, tetap saja. Ini menyakitkan; mengerikan pun menyandukan. Sungguh, aku ingin berteriak kencang dan lari sejauh mungkin? Tapi di mana? Bukankah di sini adalah tempatku pulang dan bermimpi? Sungguh perwujudan yang menarik.

Seolah perupa, pelukis, pemahat dan penyeni impi di siang bolong. Ia merintih; meminta tolong pada tubuh yang mengalirkan darah ke sekujur ranah dan koridor jiwa. Tolong, ia perlu dibantu dengan lolong dalam lorong yang penuh dengan anjing yang mengonggong dan impi di tepi lorong. Lorong itu beraroma antibiotik dengan dokter-dokter tak berleher bersama mulut yang menganga beraroma nanah mengundang segala terka.

Mereka ditemani oleh perawat-perawat berpakaian putih penuh dengan bercak noda darah para pasien–yang berlarian tanpa henti tak keruan; ada yang menabrak dinding, ada yang meracau menjeritkan resep-resep racun mematikan, dan ada pula yang bermartubasi masal seraya berlutut bahkan kayang di ruangan gelap temaram dengan mata terpejam.

Ini terlalu menyilaukan bahkan di tengah kegelapan. Ah, bisa jadi terang sendiri ialah kegelapan yang belum dikenali karena mata putih hilang digantikan oleh pupil mata yang kosong menatap menjerat. Jeratkan pasien yang menginjak suntikan berkarat. Langkah menjadi berat–terjerat oleh infeksi virus dan bakteri yang beterbangan seperti peri. Peri yang mengabulkan segala permintaanmu, layaknya epidemi harapan yang sirna dalam ketidakadaan dan histeri akan kelahiranmu. Lantas, tali-tali pusar dari plasenta janin yang tak diinginkan itu dililitkan di lehernya seperti syal yang mencekik; berbau amis dan penuh darah seperti kain kering berbau pesing.

Dokter tanpa leher sibuk mendiagnosa perihal kemungkinan terindah menurut hematnya dengan selamanya di dalamnya. Tapi ia terus menolak, karena tak pernah ada yang indah di dalam apa-apa yang dilabeli sebagai cita dari manifestasi rasa gundah–cinta. Tuju asa atas rasa yang entah bermuara di mana.

Doa-doa dihaturkan seiring irama grafis laju detak nadi dengan dokter tanpa mata putih yang menemani. Pada matanya terdapat urat yang bergerak menuju otak tak bisa berkediplah ia barang hanya sejenak. Mata itu berderik-derik, hingga terjatuh berhambur bola mata ke mana-mana. Ada yang memungut lantas mengunyahnya dengan nafsu liar luar biasa; ada juga yang menginjaknya hingga meletus–melicinkan lantai dengan lendir yang bersumbangsih.

Para dokter tetap setia dengan pakaian rapi akan tetapi dengan baju berlawanan arah mereka berjalan seperti unggas kehilangan induk namun tetap elegan. Layaknya primata dengan bahu pendek dan lengan yang panjang; mereka menyeret stetoskop dan menyebarkan tiap suntik ke derita yang tertinggal. Dokter tetap bungkam. Hanya ada suara nafas yang beradu seperti mesin gergaji yang terpedam oli dan dokter memang ahli memakai gergaji.

Seketika perawat tak berlutut datang ke dokter. Dua kaki di seret dan menyisakan garis bergelombang dengan jejak genang darah di jalurnya. Sambil menahan rasa sakit karena tak ada lutut; dengan lelehan daging yang mencair bersama nanah putih meneteslah ke segala arah termasuk pada kedua tungkai jemari kaki hingga tumit–dititipkan pesan pada dokter bahwa perawat itu ingin pulang. Ia sesegera mungkin membuka celana dokter lantas memotong penis dokter lalu dijepitkan penis itu di kedua belahan dadanya selanjutnya tali stetoskop dicekikkan pada lehernya dan terakhir, dimasukkan jarum suntik yang penuh karat berulang kali–masuk, keluar, masuk, keluar–ke labia mayoranya. Perawat kini telah pulang.

Dan di sinilah aku; dengan jantung yang berdetak perkuasif dan usus yang tertarik keluar bersama kepala dengan otak yang terbuka, aku pun ingin pulang dokter. Aku ingin pulang. Ingin pulang. Pulang.

-Dea(th)

Aku adalah hitam raksasa di
antara para pengawal yang
bakal terlupa. Kukorbankan
segala yang tersedia sebab

akulah sang raja. Di dasar
warna nubuat hitam putih
tanpa makna, maju mundur
bukan perkara. Kata-kata

di sini telah lama menopause
tanpa birahi atau nafsu liar
luar biasa untuk dijamah. Ada
yang mati tak usah peduli. Karena

aku ialah akhir yang tersisa bakal
dibunuh atau terbunuh di antara
nama tuhan yang lupa tereja. Hanya
nama bukan diriNya.

-Dea(th)