Ovasi Invidia

Teriteri menuangkan huruf dalam lautan tak bertepi–sendiri menguapkan asa bagi kita sang pecinta dalam palung terdalam bernuansa kalut berbalut lemah remah kehidupan.

Senja kini tak bewarna. Menyisakan abu kelam bagi kisah tak bermakna. Angin puting beliung membawa segenggam memori yang berlalu dengan dingin angin bersama skenario tak tertulis yang terlukis dalam kanvas satu momen-terkuras–pada mata air nircahaya asa.

Anggap saja kisah kita adalah momen kebolehjadian dari dua pasang pengendali kelamin yang–mungkin saja–ialah ketidaksengajaan yang disengajakan terjadwal menjadi masa depan namun kini rapuh–runtuh–menjadi puingpuing jigong yang terkunyah pada mulut masa lalu tanpa harapan.

Kita kini terinterupsi menjadi ordinat dan absis yang lemah terlambat. Meski hati berteriak dengan mual dan muak memanggil kekasih bersama sajak dan jantung puisi; segalanya ialah kepalsuan drama yang tersadur dalam tinta emas tak berisi.

Kita pernah menjadi lebih dari segala. Kita pernah menolak tunduk pada paksaan yang mereka sebut takdir dalam ikatan–sok–suci tak berarah. Nabi telah punah. Bersama dewa mereka bernyanyi mengejek kristal penyesalan dari kedua bolah mata.

Ini hanya karya usang nan lapuk milikku. Angkat segala perangkat upaya perbaikan yang semakin berkarat. Abaikan segala nilainilai diksiku, persepsiku dan intuisi yang sekali lagi merenungi cerita kita yang kubalut dengan kekata rumit pada tulisan ini. Semoga kau tak mengerti. Bila kau masih di bumi, hubungi aku di 085349779008; terima kasih.

-Dea(th)

Opium Syiar Nada Penyair

*
Suarasuara pita kaset tua terdengar sayup dalam mimpi sang anak manusia. Ia adalah entitas syairsyair ajaib paling karib yang merenungi keabadian waktu yang tengah mengajak bercanda. Dia kuat; penyihir kekata tiada fana sedari dulu dari tetua hingga cucu termuda lebih dulu memeluk kematian. Sendirian. Sepi. Sunyi. Temaram. Suram. Tiada upaya. Kuat adalah prima gempitanya. Namun perihal rasa ia lemah–lemah tersihir oleh kutukan kekuatan menyiksa; tiada henti meski maha mega segala upaya. Ini anugrah. Sekaligus musibah.

**
Musibah baginya sang penyihir kekata yang merasuk ke dalam sebuah kekosongan, sekaligus di selimuti kehampaan. Namun itu bukanlah lagi sebuah malapetaka bagi dia. Dia menjadikan temaram, sepi, sunyi, sendirian menjadi sekutu sekaligus kawanan karibnya. Dia menghidupkan itu dengan magis kekatanya dalam bingkai syairsyair yang menikam ulu hati namun lirih dalam sembilu menjadikan mereka terang benerang tak lagi pasi.

*
kini tertujulah padaku iramairama yang ingin ia nyanyikan. susunan tangga nada bersama segala notasi di malammalam gelap benar adanya sebuah sihir mantera tak bermaterai. Kudus. Kultus. Khusyuk. Akan terhidangkan di telinga ini untuk dijadikan juru bicara khayalku; menjadikan mata kita sebagai tumpuan arahmu. Di ritme malammu. Tolong bawakan semua asa yang kau jadikan beranda dalam mimpimu. Kini tataplah suara atas anganmu mengelana menuju fana. Biarlah ku menjadi pengantar menuju wahanamu; dan jadikan seluruhku menjadi tiket terusan untuknya. Di festival malammu.
Akan kujadikan detik sang waktu menjadi metronom nadamu. Kurakit sebagai instrumen pangantar tidurmu. Akan kuberikan sentuhan dalam visualmu. Sebuah kanvas putih untuk kau beri mimpi sebagai kuasmu. Sebab diammu adalah aku.

**
Kediaman itu merasuk dalam aku. Berkawan berkarib sekian abad silam tanpa mengenal lelah. Berupaya mendorong ku ke dalam dentingan nada-nadamu. Membawaku ke sebuah dimensi itu dengan kekuatanmu. Kekuatan nada nada minor sekaligus mayor yang kau cipta di malam penuh gelap nan syahdu. Kau jadikan sebagai sihir mantera yang mampu menghelakan semua jiwa sekaligus aku.
Kemagisan ini menjadikan ku dan kau sebuah kefanaan. Meleburkan ku dalam kau. Menjelma ke dalam roh roh magis yang tertawan di dalam kediaman. Menjadikan itu sebagai kehidupan yang fana sekaligus magis.

**Enira dan *Dea(th)

Rindu (yang) Berdosa

Aroma endapan berdebu itu mulai terendus lagi
Bisikkan nyaring mampir dalam keheningan
Seketika getar dingin mendekapku
Melayangkan sebagian rasa rindu yang berdosa; kali ini.

Jujur saja–kali ini–aku menulis dengan hati. Persetan diksi. Jangkrikkan fiksi. Aku benarbenar ingin tahu perihal keadaanmu, sudah berapa kali kaumakan hari ini, siapa yang membikin kau tertawa dan melupa sedih atau soal kisah klasik yang–dulu–kau ceritakan berkali-kali.

Aku sungguh ingin mendekapmu sekarang. Namun, kali ini biarkan bisikan nyaring kesunyian merasuk ke dalam hati. Karena perihal dosa yang kusebut rindu telah menakutiku; bahwa aku–sungguh tak mampu merelakanmu: lagi. Aku sadar benar bahwa merindu pun aku tak berhak. Rinduku ini dosa–dosa yang teramat besar.

Namun sialnya, permainan akan rindu menjelma jadi satire. Katakata hewani yang mencuat di kepalaku bertentangkan dirimu yang mulai aku jamah lagi; malam ini. Tentang sorot mata bersama tarian jemari di atas petikan gitar nan syahdu: aku tergulai, terperosok, dan tertinggal di sana lagi.
Pikiran realitaku seakan teriris bersama keinginan dosaku. Dan bisa (saja) baru kusadari sesuatu untuk diriku kutemukan dalam dirimu–yang semestinya itu dosa.

Aku begitu tahu diri. Aku bakal menjaga jarak dari sini. Rindu ini adalah dosa. Perasaan ini adalah salah. Berawal dari kagum, suka dan kini jatuh cinta. Sungguh ini bukan salahmu dengan dalih memberikan harapan palsu, sungguh bukan itu. Rasaku tulus, cintaku ikhlas, perasaanku jujur dari rasa yang terdalam. Namun, ada hal yang tak mesti dijelaskan, namun cukup dijalani. Biarlah aku membuat sekat mulai sekarang. Biarlah petikan nada gitar dan suara merdumu menjadi cerita klasik di masa depan. Aku memang belum baikbaik saja, namun aku bakal baikbaik saja. Namun satu yang kau bisa kenang:

“Jauh–jauh di tempatmu sekarang, ada seorang wanita yang pernah begitu tulus mencintaimu dengan ikhlas dan tak (pernah) berbalas”

2017
Malang-Nunukan
Nai dan Dea(th)

I love you. I do not mean that I love the rain and the aroma, love the cooking in the kitchen, enjoy word for word from the books I read, see the cake that just bloomed from the oven, have a hot tea in cold weather, or get a chance to sleep some time with turn on alarm 30 minutes faster.

I love you in a way that I do not love anything or anyone like this before.

I love you sincerely from within the core of my soul and heart.

I love your soul before I embrace your body closely.

I love you in the way that totally me.

-Dea(th)

#day1 #sayiloveyou #weareart

Labia Mayora

Aku adalah delik pada matematik yang sukar membilang pelik dan tiap detik menuju titik
pada segala bidang dengan sisi tiga
dan sempurna lupa pada segala angka
silakan abaikan segala raga
biar semua yang terliar puas pulas tanpa meraung desah

biarlah kali ini aku berdakwah pada konsepsi non hierarki di diksi fiksi berinti mati
darahdagingkan segala sabdasabda akan kebodohan satu genusku, satu ordoku, satu spesiesku atau apapun yang mirip denganku meski sedikit berbeda; produk labia mayora yang mengagalkan adanya kita.

Ovum dari angan meluluhlantakan situasi
suatu embrio bahkan rela terbelah demi adanya kesatuan darah yang dibalut kulit dengan label manusia
–namun tak ingin dipermanusia

entah berapa kali bumi menjadi kromosom dari selsel tata surya terjauh dunia
maunya inginku.
selebrasi akan diri
namun gagal dan gagal lagi.
benci adalah kandung terbaik di sini.
nikmatilah kehampaan maya dalam layar imaji
dan kini
bermainlah bersama tutstuts piano tak bernadi sebab nada telah jauh pergi mengakrabi mati
menjabat sepi
melumat sunyi
kini segalanya adalah awal untuk kembali
atau
memang kembali adalah hakiki dari pergi (?)

-Dea(th)

Lautan Keutuhan Tuhan


Nircahaya mengenang embun melewati batas jantung yang kian memerah
Rajaraja sang palung dasar tak bisa mengungkapkan kedalamannya
Digdaya jingga bersama biru-ungu-abu ialah kesatuan dari kanvas berbalut ode bagi semesta

Dua tujuan disatukan
Satu perjalanan dikokohkan
Meski bukan akhir yang sama
Akan tetapi beriringan segala suci langkah

Restuilah kami ibu bumi;
berkecup dengan limpahan rumah mutiara hitam
menjamah sejengkal demi sejengkal hamparan biru yang kental
atas segala maha syukur teruntuk sang Seniman
Salamkan sampai jumpa lagi bagi semua hingar bingar putih gemerlap kehidupan
Bumi, langit, laut, bulan, ikan
ialah jejak keutuhan Tuhan

-Dea(th)
pic by Brisma Arsandi

This is for you; The only Man I Love

I know. My letter to you will never reach you.

The rain always reminds us of something stunned and remembered. That’s where the temple is. The rain can always lull the words together with the droplets until they can no longer understand about the giggles that stab me. ‘Miss’.

Although some green grassy green buds grow, but not all can be green. Like my skin that is too light; Smelling the aroma of earth and white Cambodians who are prepared to come after you. Everything can always happen, is not it?

How is the situation up there?

Is it beautiful beyond our first encounter under an acacia tree?
I still feel funny when I remember you. We laughed over the boy who played the kite while waiting for the break; Interact with your heart and love until a definite and timeless touch to our little story.

Did you know?
In the past, I thought; I love you because you’re a sweet black and your athletic body. But it turns out I was wrong. Because even though your skin is pale and your path becomes hunched because of your hard work as the backbone of the family, in fact–I still love you.

In the past, I thought; I love you because you have a dazzling smile. But it turns out I was wrong. Because even though your charm has faded and your shiny hair is shorter, and some of your teeth are dated, in fact–I still love you.

In the past, I thought; I love you because of your smart brain. But it turns out I was wrong. Because even though you have forgotten all the science and the formulas you have learned; Considering that we are dying to become senile, but, in fact–I still love you.

In the past, I thought; I love you because you can always make me happy and smile. But it turns out I was wrong. Just because you just made me sad and cry really well; Look at your stiff body wrapped in white cloth. Still, still–I love you.

In the past, I thought; I love you because you’re always there by my side, helping me. But it turns out I was wrong. Because even though you’re gone, I still love you. Love you so much

Up until now–the time when I ran out of words, was ready to follow you up there; I still love you. While the rain still remains loyal down, tells our story to the acacia tree; Witness of our meeting.

Earned:
The woman who was lethargic with her smile smiled at her charming death wait.

-Dea(th)